Tim: Netnews
Jakarta, Netnews.co.id – Forum diskusi publik dengan tema “Peran Perempuan dalam Kampanye Etika Bermedia Sosial” diselenggarakan secara hybrid melalui platform Zoom, pada tanggal 18 Maret 2024. Acara ini diinisiasi atas kerjasama antara Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Dirjen IKP Kemenkominfo RI) dengan Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) sebagai respons terhadap meningkatnya perhatian terhadap isu-etika dalam penggunaan media sosial, khususnya di Indonesia.
Latar belakang pemilihan tema webinar “Peran Perempuan dalam Kampanye Etika Bermedia Sosial” didasarkan pada pentingnya kontribusi perempuan dalam mempromosikan dan mendorong praktik bermedia sosial yang etis dan beradab. Dalam era digital yang terus berkembang, peran perempuan menjadi sangat penting dalam membawa perspektif yang lebih empatik, inklusif, dan beretika dalam ruang digital.
H. Anton Sukartono Suratto, M.Si (Anggota Komisi I DPR RI) dalam keynote speech berkata bahwa media sosial tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai medium yang memungkinkan individu untuk mengekspresikan diri dan berinteraksi dalam lingkup yang lebih luas perlu ditanamkan sejak dini. Namun, kesadaran tersebut perlu selalu dihimbau dan diingatkan kembali kepada setiap warga negara.
“Hal tersebut menjadi penting agar pengguna media sosial dapat benar memahami bahwa kebebasan dalam berekspresi harus diiringi dengan etika dan moral dalam pelaksanaannya. Perlunya keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab moral menjadi esensi dalam menjaga dampak positif dari media sosial terhadap tiap individu dan masyarakat secara keseluruhan,” kata Anton.

Hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Drs. Gun Gun Siswadi, M.Si selaku Pegiat Literasi Digital yang mengatakan bahwa 2,7 miliar penduduk dunia yang belum memiliki akses internet berasal dari kalangan perempuan. Laki-laki pengguna internet sebanyak 60,40% dari total penduduk laki-laki, sedangkan perempuan 54,70% dari total penduduk perempuan.
“Jadi peluang dan tantangan perempuan itu yang pertama adalah semakin banyaknya perempuan berpendidikan dan sadar tentang teknologi digital seperti inovasi teknologi. Bagaimana mengembangkan inovasi teknologi perempuan untuk bisa memanfaatkan digitalisasi ini dengan baik”, kata Gun Gun.
Di Indonesia, masalah-masalah terkait etika bermedia sosial semakin meruncing seiring dengan pertumbuhan penggunaan media sosial. Data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika menunjukkan bahwa Indonesia memiliki jumlah pengguna media sosial terbesar di Asia Tenggara, dengan lebih dari 170 juta pengguna aktif.
Namun, di balik angka yang mengesankan tersebut, terdapat tantangan besar terkait penyebaran informasi palsu, kebencian, dan perundungan online yang semakin memperkeruh lingkungan digital.
Contoh kasus yang menunjukkan perlunya kampanye etika bermedia sosial oleh perempuan adalah kasus penyebaran informasi palsu atau hoaks yang dapat menimbulkan kepanikan di masyarakat. Selain itu, perempuan juga rentan menjadi korban ujaran kebencian dan perundungan daring.
Peran perempuan dalam kampanye etika bermedia sosial dapat menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan digital yang lebih aman, inklusif, dan beradab. Dalam konteks ini, perempuan memiliki keunggulan dalam membangun jaringan dan komunitas online yang kuat.

Hadir sebagai narasumber mewakili perempuan, Viviana Hanifa, SP,M.Si selaku Presiden Eksekutif Generasi Emas Indonesia dan Tenaga Ahli Dirjen Bina Pemerintahan Desa Kemendagri mengatakan bahwa Media sosial telah menjadi kekuatan yang kuat dalam membangun komunikasi politik, membuka peluang baru sekaligus menimbulkan tantangan yang perlu diatasi untuk memastikan penggunaannya yang bertanggung jawab dan berdampak positif.
“Di sini yang pertama terkait pertumbuhan dan penggunaan media sosial telah mengalami pertumbuhan sangat pesat terutama dalam beberapa tahun terakhir ini. Dengan miliaran pengguna aktif di berbagai platform Facebook, Instagram kemudian Twitter dan media sosial lainnya”. Vivi berharap dalam penggunaan media sosial perempuan juga mampu menjadi pesaing yang handal dan kreatif dalam menggunakan media sosial baik untuk promosi produk ataupun untuk konten dengan tujuan entertainment dan sejenisnya.
Melalui webinar ini, diharapkan dapat terjadi dialog yang konstruktif dan inspiratif tentang peran perempuan dalam kampanye etika bermedia sosial. Peserta akan dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menjadi agen perubahan dalam menciptakan lingkungan digital yang lebih positif dan inklusif. (Tim/Net)